Si Kembar Seniman Henna, Jual Gelang Kaki demi Modal Belajar dan Usaha

UKMBERDAYA.COM – Terlahir sebagai anak kembar membuat Karima dan Kamila banyak menghabiskan waktu bersama. Kedekatan emosional sebagai anak kembar pun tak bisa dibohongi. Banyak pengalaman yang mereka alami bersama. Banyak cerita yang telah mereka rangkai sedari dini termasuk mereka yang sama-sama menjadi seniman henna.

Dan persamaan antarkeduanya pun tidak hanya sebatas fisik belaka. Lebih dari itu, banyak lagi hal yang sama-sama mereka sukai. Seperti kebanyakan saudara kembar lainnya. Mulai baju dan penampilan pun sama. Satu berkacamata, satunya juga tidak ada beda.

Karima dan Kamila membawa citra kembar tersebut kepada level yang lebih tinggi. Mereka menciptakan sebuah karya seni henna. Tangan dan kaki para pelanggannya bak kanvas bagi mereka. Telah banyak karya indah mereka yang mengantarkan si pelanggan menuju pelaminan.

Lahir dan tumbuh besar di lingkungan pesantren, keduanya pun bersekolah di yayasan Hidayatus Sholihin Turus, Gurah. Rumah mereka pun berada di lingkungan tersebut. Mulai dari madrasah ibtidaiyah hingga tsanawiyah. Bahkan, Kamila pun bersekolah di sana hingga aliyah. Sedangkan kembarannya di Ponpes Lirboyo.

Kecintaan remaja 17 tahun tersebut dengan seni henna tumbuh sejak kelas 6. Dikelilingi banyak siswi di tingkat atasnya yang sedang hangat-hangatnya menggemari henna, mereka pun ikut terpikat dan ingin belajar menjadi seniman henna. “Kelihatannya seru dan kita penasaran. Mulai tanya-tanya dan belajar,” ujar Kamila.

Sejatinya, Karima yang pertama tertarik dengan henna. Namun karena mereka selalu melakukan banyak hal berdua, Kamila pun akhirnya juga jatuh cinta. Keduanya pun memberanikan diri membeli sepaket alat henna pertamanya. Niat yang awalnya ditentang oleh sang ibunda.

Memang jatuh cinta membuat buta. Halangan apa saja ingin diterjang. Begitu pula yang ada dalam pikiran Karima. Ia mempunyai ide yang terbilang nekat. “Saya menjual gelang kaki pemberian orang tua untuk membeli alat henna,” aku gadis berkerudung tersebut.

Dari hasil menjual gelas kaki, mereka mendapatkan uang sebesar Rp 600 ribu. Separo dikembalikan kepada orang tuanya. Baru separonya untuk membeli alat henna.

Perjuangan dan kisah mereka terjun ke dalam dunia seni henna pun dimulai. Sayangnya, tidak semua rencana akan mulus. Goncangan ombak lautan cobaan sudah lumrah datang menghampiri. Usaha mereka tak kunjung mengeluarkan hasil nyata. Modal dan bahan untuk henna mereka pun semakin berkurang.

“Akhirnya giliran gelang kaki saya yang dijual. Saya pun ikhlas karena memang saya juga mencintai henna,” ujar Kamila menimpali.

Pekerjaan jasa pertamanya adalah merajah punggung tangan customernya di wilayah Nganjuk. Seperti kebanyakan orang memesan jasa henna, mereka juga diminta dalam rangka menyambut pernikahan. Dari pengalaman tersebutlah mereka semakin getol lagi belajar dan berlatih.

Baca juga : Dorong Perajin Wayang Untuk ikut Pameran

Biasanya, seniman henna akan mengerjakan satu tangan customernya bergantian. Namun bagi Karima dan Kamila, mereka bagi tugas. “Kalau saya kerjakan tangan kanan, mbak Karima tangan kirinya. Kadang juga sebaliknya,” cerita Kamila.

Keunikan lainnya adalah meskipun dikerjakan oleh dua orang, motif henna ditangan customernya pun sama persis. Tingkat kesalahannya sangat rendah. Memang, sebelumnya mereka telah membuat dan mempelajari motif yang akan dikerjakan terlebih dahulu. Namun apabila tidak ada koneksi batin antara kedua, agaknya hal tersebut juga akan susah juga. Remaja yang masih kelas 2 Madrasah Tsanawiyah tersebut mengaku bisa mulai mandiri dengan usahanya tersebut. “Alhamdulillah, setidaknya bisa meringankan beban orang tua. Paling tidak sudah ada uang jajan sampingan,” ujar Kamila.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here