Salon Ikan Koi, Ada Bahan Cutting Kenapa tidak DiCoba

0
67
Salon Ikan Koi, Ada Bahan Cutting Kenapa tidak DiCoba

UKMBERDAYA.COM – Prestasi masyarakat Kediri tidak hanya meliputi bidang pertanian, kerajinan hingga kesenian saja. Seperti diketahui, ada potensi yang berbeda berada di Desa Deyeng Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri. Salon Ikan Koi (Cutting), ya salon yang dikhususkan untuk Ikan Koi ini mulai ada sejak tahun 2015 oleh Sumadi. Salon yang identic dengan kecantikan kaum perempuan, kali ini salon yang didirikan Sumadi di Desa Deyeng ini untuk ikan Koi yang dipersiapkan khusus untuk kontes (Show).

Ayah dari 1 anak perempuan ini sebelum bergelut dunia Cutting Ikan Koi, ia sudah hobi dan senang memelihara Ikan Koi. Hobinya ini ia gemari sejak duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) tahun 1997. “Sejak kecil sih sebenarnya sudah suka nagkepin ikan di sungai,” terangnya sambil tertawa. Juga ia jelaskan bila biaya pendidikan ia sejak SMP hingga SMA (Sekolah Menengah Atas) ia peroleh dari jerih payahnya di ternak dan jual beli Ikan Koi. “Soalnya itu juga ikut orang 6 tahun sampai lulus STM (Sekolah Teknik Menengah),” ujar laki-laki berambut kriting ini. Ia juga jelasakan lamanya jam terbang di ternak Ikan Koi lah yang mengenalkannya pada teknologi baru Cutting Ikan Koi.

Salon Ikan Koi, Ada Bahan Cutting Kenapa tidak DiCoba

Bukan tanpa alasan bagi Sumadi untuk menggeluti Cutting Koi ini dirumahnya. “Saya hanya kefikiran satu, saat lihat orang Cutting Koi. Ada bahan, kenapa tidak di coba?,” terangnya pada. Ia juga menjelaskan bila ia akhirnya memulai proses belajar Cutting di kawasan Blitar yang memakan waktu belajar hingga satu tahun. “Makanya saya brani Cutting secara mandiri tahun 2015. Dirumah sendiri,” kata Sumadi.

Tidak hanya mandiri untuk kalangan pribadi, Sumadi juga membuka jasa Cutting bagi siapa saja yang ingin Ikan Koi miliknya dipercantik dengan Cutting. “Karna untuk performa lomba, motif di tubuh Ikan Koi juga menunjang. Koi bisa prestasi karna Cutting ini,” tegas Sumadi. Laki-laki ini juga menjelaskan bila cutting merupakan proses sulit yang menjanjikan dari segi prestasi hingga finansial, tidak salah bila ia tetap menggeluti sampai saat ini.

Proses Cutting sendiri bagi suami Sarmi ini bukan hal yang mudah, ia harus merintis dan otodidak di awal tahun 2015 semenjak lepas dari proses belajar. “Saya waktu itu kurang tau takaran dosis biusnya. Kalo ndak pas. Ikan bisa mati,” terangnya. Juga ia jelaskan bila tidak hanya mengepaskan takaran bius pada ikan koi yang sulit, melainkan waktu pengangkatan ikan koi untuk proses Cutting. “Jadi koinya diangkat untuk dikerik sisiknya.Kalau waktunya tidak pas ikan juga bisa mati,” katanya sambil menunjukan sisik ikan koi. Laki-laki asal Plosoklaten ini mengungkapkan untuk memunculkan kekuatan motif ikan koi, ia harus bisa menyeimbangkan saat ikan koi harus berada diair hingga saat ikan koi berada di luar air.

Baca juga : Kisah Inspiratif Dirut The Legend Water Park Kertosono

Untuk jasa cutting, Sumadi memasang tarif berdasarkan ukuran ikan koi customer. Untuk ukuran 15 cm seharga Rp 100 ribu, ukuran 20 cm Rp 200 ribu, ukuran 25 cm Rp 300 ribu dan 30up Rp 500 ribu. “Kalo ikan Koinya dari saya, harga minimal Rp 500 ribu,” ujarnya. Untuk prosesnya sendiri Sumadi menjelaskan bila ikan koi customer melalui proses pemaketan, sehingga pengerjaan cutting diproses dirumahnya. “Pernah juga jual hasil cutting sampai Rp 3 juta. Padahal belum sembuh ikannya,” terangnya. Proses cutting ikan koi ini paling lama 10 menit, dengan masa penyembuhan selama 1,5 bulan. Untuk pelayanan ke customer, Sumadi mengaku sudah sampai Batam, Makasar, Kalimantan, Bali dan wilayah lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here