Rintis Ronde Titoni Hingga Jadi Legendaris

UKM BERDAYA.COM – Siapa yang tak tahu jajanan Ronde? Jajanan yang dapat menghangatkan tubuh di tengah dinginnya malam. Di Malang terdapat tempat legendaris untuk menyantap ronde. Namanya adalah Ronde Titoni yang sangat populer dan hampir selalu ramai oleh pengunjung. Ronde Titoni dirintis oleh Abdul Hadi, dia mulai menjajakan minuman hangat ini sejak tahun 1948.

Setiap pukul tiga sore, Hadi sudah mulai menjajakan dagangannya dengan cara memikulnya di pundak. Dari rumahnya di kawasan Kebalen, dia menuju jalan Pasar Besar yang jaraknya sekitar 1 kilometer. Kuah jahe hangat plus ronde dijajakan dengan berkeliling dari satu jalan ke jalan lain di daerah yang dulu dikenal dengan sebutan Pecina itu. Awalnya Abdul Hadi memanfaatkan pikulan untuk menjajakan rondenya dan verkeliling di kawasan Pecinan.

Saat itu, kopi dan teh sudah jadi minuman favorit masyarakat. Sementara, minuman dari jahe masih jarang bisa dinikmati di jalan. Peluang itulah yang ditangkap Hadi dengan menggabungkan ronde dan kuah jahe menjadi minuman hangat yang kemudian jadi legendaris itu.

Pria kelahiran 2 Februari 1968 ini tak tahu persis sampai kapan ayahnya berjualan menggunakan pikulan. Namun, seiring dengan banyaknya warga yang menyukai ronde buatannya, Hadi lantas memilih berjualan dengan gerobak dan mangkal di depan toko arloji Titoni.

Tak menjual ronde saja di sana, Hadi lantas menambah variasi minuman dan panganan pelengkap. Ada variasi ronde yang dicampur kacang tanah dan menu yang saat ini masih dijual.

”Karena sewaktu pikulan yang dibawa terbatas, setelah ada gerobak jadi lebih bisa berinovasi lagi,” lanjut ayah empat anak itu.

Baru sekitar tahun 1985 Sugeng mulai aktif membantu ayahnya berjualan. Sejak saat itu dia mulai melayani pembeli dan mahir meracik ronde.

”Dulu memang yang beli kebanyakan orang-orang Tionghoa. Warga pada umumnya memang agak jarang yang beli karena mungkin dikira jajanan mahal. Padahal harganya merakyat,” terangnya.

Dia masih ingat, saat dirinya mulai ikut berjualan tahun 1985, semangkuk ronde dijual seharga Rp 25.

Baca juga: Pentingnya Perizinan UMKM, Agar bisa Naik Kelas

Menurut Sugeng, pada tahun 70-an hingga 80-an, Ronde Titoni amat terkenal dan banyak penggemarnya. Setelah ayahnya wafat, Sugeng yang melanjutkan usaha ayahnya itu. Masih di tempat yang sama, di depan toko jam Titoni.

Sampai pada tahun 1988, Malang mulai melakukan proyek pembangunan pasar. Mau tidak mau, dia pun harus pindah mencari tempat lain, hingga pada akhirnya pindah berjualan di Jalan Zainal Arifin. Masih tetap dengan menu yang sama, Sugeng juga tetap menggunakan nama yang sama, Ronde Titoni, untuk mengingatkan pelanggan lamanya agar kembali berkunjung dan menikmati sensasi jahe dengan beragam tambahan isinya itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here