Peluang Bisnis Baru dari Hidup Normal Di Masa Pandemi Corona

0
61

Ukmberdaya.com – Peluang Bisnis Baru dari Hidup Normal Di Masa Pandemi Corona Covid 19 – Ekonomi memang sedang lesu akibat corona, namun jangan putus harapan. Manfaatkan peluang bisnis baru. Wabah virus corona muncul pertama kali di Indonesia awal bulan Maret lalu. Setelah korban positif semakin bertambah, Presiden Jokowi mengimbau masyarakat untuk melakukan berbagai kegiatan di rumah.

Kerja dari rumah, belajar dari rumah, hingga ibadah dari rumah.

Sejak itu, dampak virus corona mulai memukul berbagai sudut ekonomi. Indeks bursa saham rontok, rupiah anjlok, dan pelaku bisnis di sektor riil berteriak susah berusaha. Bukan hanya Indonesia, Dana Moneter Internasional (IMF) pun bahkan memprediksi pertumbuhan ekonomi global akan negatif akibat corona.

Di saat krisis seperti ini, hal yang bisa kita lakukan adalah memutar otak untuk mencari peluang bisnis baru yang bisa menghasilkan uang. Untuk para pengusaha yang mengalami penurunan atau bahkan terpaksa menutup bisnis imbas virus corona, yuk bersama-sama bangkit kembali.

Namun kini kebiasaan baru di masyarakat seiring pandemi corona akan memunculkan peluang – peluang bisnis baru. Terbuka peluang usaha aplikasi kencan online lewat Zoom.

Ketentuan jaga jarak sosial, pembatasan perjalanan dan kebersihan di masa pandemi corona diprediksi akan membentuk kebiasaan-kebiasaan baru di masyarakat. Sedangkan beberapa regulasi baru untuk mencegah penyebaran virus di masyarakat berpotensi menciptakan era baru bagi perekonomian.

Bila mengacu pada perhitungan beberapa peneliti, pandemi corona kemungkinan belum akan segera berakhir seiring belum ditemukan obat khusus ataupun vaksin.

Para peneliti telah mengeluarkan perhitungan dengan berbagai pendekatan dan asumsi untuk memprediksi ujung dari pandemi corona.

Yang terbaru, prediksi dari para peneliti Harvard. Empat peneliti Harvard: Stephen M. Kissler, Christine Tedijanto, Edward Goldstein, Yonatan H. Grad, dan Marc Lipsitch memprediksi gelombang baru penyebaran virus corona saat musim dingin, setelah gelombang besar pertama.

Bila imunitas yang terbentuk seiring waktu bersifat permanen, virus akan hilang dalam lima tahun, atau lebih setelah puncak pandemi. Jika imunitas tidak permanen, maka virus ini akan mengalami sirkulasi reguler seperti influenza.

Alhasil, perlu terus menerapkan jaga jarak sosial secara berulang (intermitten distancing). “Intermitten distancing kemungkinan diperlukan hingga tahun 2022, kecuali fasilitas perawatan kritis meningkat signifikan atau tersedianya vaksin,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.

peluang bisnis baru di masa pandemi covid 19
Sumber foto : Katadata.co.id

Mengacu prediksi tersebut, pola hidup dan kerja kemungkinan mengalami gangguan alias disrupsi dalam beberapa tahun. Board of Innovation firma di bidang desain bisnis dan strategi global yang memegang klien-kilen multinasional seperti Danone, Philips dan Toyota – memprediksi disrupsi ini akan menghasilkan kebiasaan-kebiasaan baru yang tetap bertahan setelah pandemi berlalu. Ini menjadi peluang atau tantangan bagi pelaku bisnis.

Kebiasaan baru yang dimaksud seperti bekerja di luar kantor, keseimbangan hidup, akses ke e-commerce dan layanan pengiriman barang, serta layanan kesehatan online alias e-health.

“Orang dan organisasi akan menemukan manfaat dari cara baru hidup dan bekerja. Ini akan menantang bisnis tradisional dan gaya hidup yang ada (sebelum pandemi),” demikian tertulis dalam analisis Firma tersebut yang bertajuk “Shifts in the Low Touch Economy”.

Berbagai Peluang Bisnis Board of Innovation (BoI) memprediksi 10 pergeseran yang terjadi karena perubahan perilaku manusia seiring masalah pandemi corona. Pergeseran-pergeseran ini bisa memunculkan peluang-peluang bisnis yang baru.

  1. Kecemasan dan depresi yang lebih besar setelah pandemi berlalu. Sebab, banyak orang dipediksi akan merasa lebih terisolasi, kehilangan pekerjaan, menghadapi masalah kesehatan dan  hubungan. Di tengah kondisi ini, kebutuhan atas terapi dan coaching diprediksi membesar. Begitu juga dengan aplikasi hiburan. “Beberapa regional mulai melihat kenaikan permintaan untuk hewan peliharaan. Gim/aplikasi online juga booming.” BoI menilai masih banyak peluang yang bisa dikembangkan, misalnya aplikasi kencan online melalui Zoom.
  2. Hilangnya kepercayaan terhadap kebersihan orang dan produk. Dengan penyebaran virus corona, konsumen dan organisasi lebih berhati-hati terhadap orang dan produk yang dihadapinya. Alhasil, kemungkinannya, akan ada ekspektasi atas bukti formal akan kebersihan dan kesehatan. Ini akan menghasilkan perubahan kemasan, pertukaran rekam jejak kesehatan dan temperatur, bisnis retail/hospitality dengan jasa gratis untuk kebersihan, preferensi produk yang natural, layanan pengantaran tanpa kontak.
  3. Pembatasan perjalanan, bahkan dalam negeri. Melakukan perjalanan akan terasa berisiko karena ada kemungkinan sulit untuk pulang atau ketidakpastian soal keamanan di negara lain. Dengan kondisi ini, pariwisata lokal diprediksi bakal berkembang. “Perjalanan ke luar negeri hanya setimpal untuk jangka waktu yang panjang karena adanya risiko karantina perjalanan ke pedesaan dan daerah terpencil menjadi perjalanan mewah.”
  4. optimalisasi kerja dari rumah. Perusahaan dengan dana yang ketat diprediksi akan mengurangi ruang kantor dan infrastruktur. “Orang akan membawa peralatan khusus, mesin, dan perlengkapan canggih audio/video masuk (ke rumah). Kebijakan dan asuransi baru akan mengikuti.”
  5. Meningkatnya tensi dan konflik di berbagai level. Banyak orang dan organisasi akan memasang posisi bertahan hidup. Dalam kondisi ini, orang kemungkinan melakukan pelanggaran kontrak atau regulasi. “Perlawanan hukum akan terjadi di mana-mana. Di saat yang sama, pengacara akan bergeser dengan cara kerja secara digital. Ini akan memicu lebih banyak aplikasi untuk mengotomasi pekerjaan legal.”
  6. Peningkatan level pengangguran. Banyak orang diprediksi terpaksa memikirkan ulang karier mereka. Dalam kondisi ini, layanan untuk kemampuan baru atau pelatihan diprediksi mencapai puncaknya. Selain itu, banyak juga yang akan banting setir menjadi wirausahawan. Angka pengangguran kawasan asia
  7. Terbiasa membawa pulang dan mengirim berbagai barang. Banyak bisnis retail dan agen produk diprediksi mengubah layanannya menjadi berbasis pengiriman. Meskipun, retail reguler tetap ada. Berdasarkan kondisi ini, kemungkinan lebih banyak layanan pengiriman khusus misalnya makanan beku. Selain itu, rantai pasok yang lebih maju, misalnya pengantaran untuk berbagai toko ke tujuan yang sama.
  8. Kontak terbatas dengan orang tua. Hingga vaksin tersedia, interaksi dengan orang di atas 65 tahun menjadi terbatas. Alhasil, orang-orang kemungkinan akan memikirkan ulang model-model pertemuan sosialnya. Adopsi digital akan semakin meningkat. Komunitas-komunitas dengan kebutuhan yang sama atau umur tertentu juga diprediksi meningkat.
  9. Identitas diri lebih mencuat dibanding identitas pekerjaan. Dalam kondisi normal, busana adalah elemen yang membentuk dan mengkomunikasikan identitas yang diinginkan. Ketika interaksi fisik berkurang, tampilan saat interaksi video akan menggantikan sebagian fungsi itu. “Akan lebih banyak bermunculan eksperimen terhadap digital alter ego.”
  10. Nilai lebih terhadap imunitas konsumen. Tempat-tempat makan dengan sekat individual dan tanpa interaksi dengan manusia misalnya robot pelayan diprediksi meningkat. Kemungkinan lainnya, industri dengan segmen konsumen yang memiliki bukti rekam kesehatan atau status imun. “Ini mungkin akan menjadi wilayah yang belum dipetakan untuk sebagian besar industri; meskipun itu mungkin merupakan alibi yang bagus untuk mengawasi industri hiburan orang dewasa. Selama beberapa dekade mereka telah berhasil mempertahankan penyebaran HIV dan STD di industri mereka.”

“Normal Baru” Ekonomi Tidak Mudah Era normal baru atau “new normal“ perekonomian ini kemungkinan tidak mudah, meskipun peluang-peluang bisnis tetap terbuka. Berkaca pada pengalaman krisis 2008, ketika itu, Indonesia relatif berdaya tahan, dengan ekonomi yang masih tumbuh 4,5% di 2009.

Namun, Amerika Serikat yang menjadi titik awal krisis terkontraksi 2,5%. Pemerintah AS menggelontorkan stimulus ekonomi besar-besaran, sebelum mulai menjajaki masa normalisasi lima tahun kemudian pada 2014.

Saat ini, di tengah risiko krisis akibat pandemi corona, negara-negara menggelontorkan aneka paket stimulus, dari mulai pemangkasan pajak, subsidi besar-besaran gaji, dan bantuan lainnya. Harapannya, ekonomi bisa lekas bangkit setelah pandemi berakhir.

Meski begitu, risiko lambatnya pemulihan ekonomi setelah pandemi tetap membayangi. Hal ini seiring risiko lamanya pandemi berakhir.

Organisasi Moneter Internasional (IMF) melihat risiko pertumbuhan ekonomi dunia minus 3% tahun ini bila pandemi berlarut-larut, berbalik dari positif 2,9% tahun lalu.

“Pandemi yang bertahan hingga kuartal III bisa mengakibatkan kontraksi lebih jauh yaitu sebesar 3% pada 2020 dan pemulihan yang lambat di 2021, sebagai dampak dari kebangkrutan dan pengangguran,” tulis IMF dalam rilis prognosis terbarunya.

Organisasi Perburuhan Internasional atau ILO memperkirakan sebanyak 1,25 miliar orang di seluruh dunia bekerja di sektor yang terdampak parah oleh corona dan dibayangi risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).

Sektor-sektor tersebut termasuk akomodasi dan jasa makanan; perdagangan retail dan besar, serta jasa reparasi kendaraan; manufaktur; dan properti atau real estate. Bila terjadi PHK besar, konsumsi pun berisiko tertekan.

Jika mengacu pada survei pengeluaran warga Amerika Serikat yang dilakukan Booz & Co pada 2009, pengeluaran untuk berbagai kategori konsumsi jatuh setelah krisis 2008.

Dalam survei tersebut, penurunan pengeluaran terbesar terjadi untuk makan di luar rumah yakni 58%, elektronik dan pakaian masing-masing 53%, media dan hiburan 51%, renovasi rumah 44%, alkohol 42%, binatang peliharaan, mainan dan hobi 37%, layanan dan produk finansial 33%, rokok 31%, minuman nonalkohol 31%, biaya perawatan atau reparasi 28%.

Sumber : Katadata.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here