Inspiasi Bisnis, Raih Kemakmuran Dengan Menyemai Toge

0
74
Inspiasi Bisnis, Raih Kemakmuran Dengan Menyemai Toge

Bogor- Toge menjadi sayuran yang banyak digunakan masyarakat Indonesia. Selain mudah ditemukan, harga toge juga relatif murah.

Setiap kantong dengan berat seperempat kilogram, dijual dengan harga Rp 5000 oleh pengecer di pasar. Jumlah yang cukup digunakan bagi warga kecil untuk dua kali memasak.

Besarnya permintaan toge di tengah masyarakat membuat Heri Kiswanto (33), memberanikan diri memulai usaha. Pada tahun 2010 dengan  modal sendiri, ia memulai usah. Tak berjalan mulus. Hambatan pasar hingga persolan pemilihan biji yang akan disemai menjadi kendala. Gagal dijual hingga yang disemai tak tumbuh.

Meskipu begitu, dengan ketekunan mengenal jenis biji kacang hijau dan perlakuan khusus untuk masing-masing tipe kacang impor itu, perlahan toge yang disemai semakin baik.

“Untuk pemula, 1 kilo kacang bisa menjadi 5 kilogram toge. Kalau saya mahir sekarang bisa 7,5- 8 kilogram, “kata Heri ketika dijumpai di pabriknya di Bogor, sabtu (15/2/2020)

Toge yang dihasilkan ini kemudian dijual di pengecer Rp 5500 per kilogram. Heri menyebutkan saat importir menjual biji kacang hijau Rp 18,700 per kilogram.

Artinya tiap kilogram kacang ia mengantongi penjualan Rp 44.000. Dengan begitu, setelah dikurangi biaya-biaya, Heri mengantongi margin 30 persen sampai 40 persen dalam setiap satu kilogram toge panen.

“Dalam usah toge tantangan utama adalah air bersih. Salain itu kancang impor jangan sampai terbeli yang kering oven. Pasti busuk “katanya”

Heri menyebutkan, air yang dibutuhkan untuk usaha toge bersumber dari tanah dalam. Air yang biasanya ditemukan 100 meter lebih di dalam tanah ini memiliki ciri yang bersih dengan tingkat keasaman (PH) stabil.

“saya sudah 9 kali dan gagal. Sekarang baru ada 1 titik yang sesuai. Setiap meter dulu Rp 400.000, sekarang sekitar Rp 500.000.

Usaha heri perlahan membesar. Awalnya ia mengandalkan keuntungan usaha untuk meningkatkan bisinisnya. Setelah 7 tahun Heri mampu memproduksi 1 kuintal kacang (100 kilogram), setiap hari atau 750 kilogram sampai 800 kilogram panen toge.

Ia kemudian ikut kredit usaha rakyat (KUR) yang digerakkan pemerintah. Pada 2017, berbekal tekad membesarkan usaha, Heri kemudian mengajukan pinjaman Rp 500 juta ke PT Bank negara Indonesia (PERSERO) TB (BNI). Dana digulirkan untuk membesarkan usaha.

Bibit kacang hijau yang biasanya dibeli sesuai kapasitas produksi per 5 hari, ditinggal menjadi 5 ton. Jumlah ini setara dengan bahan baku satu bulan produksi. Pasalnya, produksi ditingkatkan menjadi 2 kuintal kacang perhari atau 1,5 ton sampai 1,6 toge per hari.

Peningkatan bahan baku digunakan memastikan biaya produksi tidak melonjak tiba-tiba. Dengan bahan baku impor maka nilai tukar rupiah sangat sensitif dengan biaya produksi.

Sementara itu, untuk memastikan produk terserap pedagang, Heri  mengembangkan konsep memili lapak sendiri di pasar. Ia merekrut keluarganya atau orang dari kampung untuk bekerja di lapak dengan sistem bagi hasil

“Sekarang ada 21 lapak di sejumlah pasar sekeliling bogor”. Katanya

Lebih lanjut, pria asal jawa tengah ini menyebutkan kredit usaha rakyat membantu dirinya mengembangkan usaha toge. Program ini memberikan modal kerja dengan bunga murah.

Sementara pilihan ke Bank Bni, menurut Heri karena kemudahan teknologi yang dimiliki oleh bank negara ini.

“Pelayanan Bni sangat ramah dan sistem digitalnya memudakan saya untuk membayarkan cicilanan per bulannya, “ujar Heri.

Manajemen Bni menyebutkan usaha toge yang Heri lakukan menjadi bagian penyaluran KUR BNI. Hingga Januari 2020 pihaknya telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 1,6 Triliun, atau meningkat 20 persen dibandingakan penyaluran Januari 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here