Bisnis payung rongsok Foto: Sudirman Wamad/detikcom

UKM BERDAYA – Nuriman, tukang servis payung asal Cirebon sukses memanfaatkan limbah payung menjadi bisnis yang menguntungkan. Dari tukang servis, kini menjadi bos payung. Dia berhasil mengembangkan usaha reparasi payung yang sudah dijalani sejak 1995 silam. Mulanya, Nuriman hanya bermodal nekat merantau ke Ibu Kota menjadi tukang servis payung keliling.

“Dulu awal-awal itu untuk biaya servis payung hanya Rp 50 sampai Rp 100. Saya keliling jalan kaki. Hanya modal nekat dan keahlian menyervis payung,” ucap Nuriman.  Nuriman tinggal di Desa Panguragan Wetan, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Baca juga: Kisah Sukses Andy Djunaidi, Pernah Jualan Pakaian Dalam Wanita Saat Kuliah

Nuriman tetap bersabar dan tekun menjalani usahanya sebagai tukang servis payung. Gerbang kesuksesan Nuriman pun terbuka saat Indonesia dilanda krisis moneter. Saat itu, Nuriman kebanjiran order.

“Ya lumayan besar orderannya waktu itu, sekitar 1998 dan 1999. Di tahun itu, saya mulai menjalin relasi dengan pabrik-pabrik payung,” ucapnya.

Selain menerima servis payung dari perorangan, Nuriman juga membeli limbah payung atau produk gagal dari sejumlah pabrik payung. Bisnis reparasi payung Nuriman pun mulai berkembang.

Baca juga :Kisah Sukses, Jawara UMKM Provinsi Jawa Timur 2018

“Saya mulai membeli barang-barang reject dari pabrik. Untuk kemudian saya reparasi ulang dan saya jual,” ucapnya.

Tahun demi tahun Nuriman lewati. Memasuki tahun 2000, Nuriman mulai memiliki karyawan. Saat itu, Nuriman mengontrak rumah untuk membuka bisnis reparasi payungnya.

“Waktu di Jakarta itu saya punya 10 karyawan. Kemudian tahun 2014 saya pindah ke kampung halaman, saya buka reparasi payung di sini,” ucapnya.

Nuriman yang mulanya hanya mampu membeli puluhan lusin limbah payung dari pabrik dalam sebulan, kini bisa memborong hingga ratusan lusin limbah payung. Nuriman mengajak anak bontotnya, Fadilah (26) untuk mengembangkan bisnis reparasi payungnya.

“Kadang barang reject dari pabrik itu tak bisa kita pakai, jelas merugikan. Hanya jadi rongsok. Modal untuk membeli barang reject itu dari Rp 10 juta sampai Rp 20 juta,” katanya.

Nuriman menyerahkan sepenuhnya penjualan payung hasil reparasi kepada Fadilah. Fadila keliling dari pasar ke pasar untuk memasarkan payung hasil reparasi. Bahkan, penjualan payung hasil reparasi Nuriman itu kini tembus ke sejumlah daerah di Jawa Barat dan Jawa Tengah. “Ada 15 karyawan yang membantu mereparasi. Awalnya barang-barang kami jual di Cirebon, kemudian berkembang hingga Bandung dan sejumlah daerah di Jawa Tengah,” kata Fadila. Saat musim hujan, diakui Fadilah, penjualan payung melonjak, bahkan dalam sepakan Fadilah mengaku bisa meraup omzet hingga Rp 15 juta.

“Kalau musim hujan ya penjualannya gampang. Dalam seminggu kita bisa menjual 500 lusin payung. Ya sekitar Rp 15 juta per minggu,” ucapnya.

Fadilah tak menampik bisnis reparasi payung merupakan bisnis musiman. Dia menyiasati dengan menyetok payung saat musim kemarau untuk dijual saat musim hujan. Sedangkan harga satu payung bervariasi dari Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu. “Harga per lusin itu dari Rp 120 ribu hingga Rp 250 ribu, tergantung bahannya. Paling rendah penjualannya hanya 30 lusin per minggu. Sekarang lagi banyak order, karena musim hujan,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here