Bingung Bangun Tim Kompak? Belajar dari semut saja

0
83
Bingung Bangun Tim Kompak? Belajar dari semut saja

UKMBERDAYA.COM – Bangun tim kompak itu gampang-gampang sulit. Tak sedikit dari kita yang berpikir lebih baik usaha sendiri alias menjadi panglima tanpa pasukan karena tidak perlu repot koordinasi dan mengeluarkan biaya tenaga kerja. Tapi disisi lain, jika usaha kita ingin naik kelas apa bisa mengembangkan usaha dari omset Rp300ribu per hari menjadi 300 juta kalau sendirian? Mau tidak mau kita perlu memiliki tim. Terkait cara membangun tim yang solid, kita bisa belajar dari semut.

1. Menyamakan visi dan misi

Biasanya sebuah tim merasa sudah memiliki visi yang sama. Namun sejalan dengan banyaknya peluang dan tantangan yang dihadapi, perbedaan pandangan dan prinsip terjadi, yang tak jarang harus berakhir dengan perpisahan. Bagaimana menarik pembelajaran bangun tim kompak dari semut terkait hal ini? Semut adalah hewan koloni yang bisa berkolaborasi untuk sebuah visi dan misi yang spesifik. Contohnya, tim semut bisa bekerjasama untuk sebuah visi membangun sarang sebanyak X unit di pohon Y, agar bisa menampung telur sebanyak Z unit.

Untuk mencapai visi itu, misi mereka adalah menggalang pasukan, bergotong-royong, dan berbagi tugas untuk mengumpulkan berbagai jenis bahan dengan target kuantitas dan kualitas tertentu, mengatur distribusi bahan ke lokasi pembuatan sarang, sampai proses perakitannya agar bisa terbangun sarang sesuai dengan rencana.

Jadi kita perlu menyusun visi yang spesifik, agar dapat saling mengkonfirmasi apakah kita semua sudah memiliki gambaran rinci yang sama atas sebuah visi dan misi. Kita bisa diskusikan bersama tim, “ingin menjadi perusahaan seperti apa dalam 5-10 tahun ke depan? Misalnya, ingin menjadi produsen kue bolu pisang terkenal se-ASEAN atau cukup se-Kota? Untuk mencapai visi tersebut, misi apa saja yang harus dikerjakan? Saat diskusi mungkin muncul perdebatan, tapi ini baik untuk pembangunan tim karena hanya akan ada dua kemungkinan dampak positif.

Pertama, potensi ketidakcocokan akan lebih cepat terlihat, sehingga kita bisa memutuskan hubungan kemitraan lebih awal daripada nanti ketika hubungan sudah terlanjur begitu dalam. Kedua, bibit kekompakan dapat semakin menggebu-gebu.

2. Pembagian tugas dan peran yang jelas

Pernahkan melihat semut diam atau menganggur? Seringnya kita melihat semut dalam kondisi berjalan, bukan? Tugas semut yang paling sederhana adalah membangun jejak rute untuk memudahkan semut lainnya menyusul. Tetapi yang pasti, semua bergerak, semua kebagian tugas, semua punya peran. salah satu hal penting dalam bangun tim kompak adalah kejelasan pembagian tugas.

Apakah pembagian tugas dan peran tim kita sudah jelas? Jika (1) masih ada anggota tim yang kebingungan dengan apa saja tugasnya, atau (2) ada dua atau lebih tim yang mengerjakan tugas yang sama alias tumpang tindih, atau (3) ada tim yang saling menyalahkan karena tidak ada yang merasa perlu bertanggung jawab, itu pertanda pembagian tugas kita mungkin belum jelas.

Cara paling umum dalam membagi tugas adalah dengan membuat daftar things to do atau daftar tugas, lalu mengelompokkannya ke dalam divisi-divisi (misalnya keuangan, pemasaran, produksi, dsb), kemudian tetapkan sosok yang akan memimpin (person in charge) setiap divisi atau tugas tersebut. Ulasan lebih lengkap ada di artikel ini.

3. Transparansi dan kelancaran komunikasi

Mengamati gerombolan semut, kita melihat para semut seperti saling menyapa saat berpapasan. Semut dapat saling mengenali peran dan kebutuhan satu sama lainnya dengan mendeteksi aroma feromon. Seekor semut dapat memanggil ratusan semut lainnya dengan mengeluarkan aroma feromon khusus yang mensinyalkan kondisi tertentu. Pendeknya, “bahasa” di dunia semut adalah “aroma feromon”. Hebatnya, setiap jenis aroma memiliki makna yang spesifik sehingga sesama semut tidak akan salah mengartikan; dan, aroma tersebut juga tidak akan bohong. Jika aroma feromon mengirim sinyal “ada makanan manis”, ya memang ada makanan manisnya.

Baca juga : Sulit Beradaptasi di Pekerjaan baru? Coba Tips Berikut Ini

Dalam bangun tim kompak penggunaan bahasa yang dimengerti semua tim sangatlah penting. Selain itu, kejujuran dan keterbukaan harus menjadi nafas dalam tubuh tim kita. Tidak sedikit gagal bangun tim kompak dan tim bubar karena tidak ada keterbukaan, misal terkait skema insentif yang tidak jelas sehingga menimbulkan ketidakpercayaan.

Maka, penting untuk diskusi rutin (mingguan, bulanan) antara semua tim inti (direksi) untuk membahas semua aspek bisnis terkait kemajuan, kendala, peluang-peluang, dan langkah-langkah yang akan diambil untuk merenspon situasi dan kondisi terkini. Saat ini kita punya berbagai teknologi yang dapat melancarkan komunikasi. Diskusi tak lagi perlu selalu tatap muka, bisa melalui WhatsApp Group, trello, slack, dan video group call melalui aplikasi Line, Zoom, maupun Skype. Untuk transparansi, segala anggaran dan perhitungan keuangan dapat dengan mudah dibagikan ke semua tim inti melalui email atau google sheet. Yuk, manfaatkan teknologi!

4. Kepemimpinan yang efektif

Semut berbaris dan berjalan seperti ada jalur tol yang tidak terlihat oleh mata kita. Semua semut berjalan teratur sesuai jalur dan barisan yang rapi. Dalam menjalankan misi, pemimpin semut akan meninggalkan jejak aroma feromon tertentu di rute yang menurutnya paling efektif dan efisien untuk dilalui anggota timnya. Jika kita cukup iseng mengganggu jalur lalu lintas dengan menyapu mereka, pasukan semut kadang tampak kebingungan, namun tak lama pasukan semut dapat kembali membentuk dan melanjutkan barisan. Keren banget ga sih!

Ada dua hal penting di sini. Pertama, adanya pemimpin yang jeli dan peduli dengan kenyamanan bekerja timnya, sehingga Ia selalu membuat pola kerja yang efektif dan efisien. Kedua, adanya respect atau rasa hormat anggota tim terhadap sosok pemimpin, karena walaupun ada terpaan masalah, bukannya mengeluh, malah tetap kekeuh melaksanakan arahan pemimpinnya. Diskusikan setiap arahan yang direncanakan bersama anggota tim yang akan melaksanakannya nanti, bisa jadi mereka punya ide yang lebih baik. Hari gini sosok pemimpin yang membuka ruang pendapat adalah yang lebih disenangi, bye pemimpin bossy!

5. Budaya empati

Pernah lihat ratusan semut bergelantung membangun jembatan untuk membantu lebih banyak temannya menyeberangi dua dahan? Inilah contoh nilai-nilai solidaritas dan kolaborasi. Kita bisa memulainya dengan terlebih dulu membangun budaya empati. Coba kita tanyakan ke diri sendiri, “Kalau saya menjadi dia, apakah saya akan senang melaksanakan tugas tersebut?” “kalau saya jadi dia, bisa lebih baik, kah? Bagaimana caranya menurut saya untuk lebih baik? Apakah caranya relevan dengan konteks lapangan yang dihadapi oleh tim?”. Tidak hanya di dalam tim, empati juga perlu dibangun terhadap konsumen dan mitra bisnis. Apakah benar produk kita sudah berhasil membuat membuat hati mereka senang? Apakah skema kerjasama sudah membuat nyaman mitra kita?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here