UKM BERDAYA – Kerajinan batik, meski merupakan home industry, kerajinan tersebut merupakan potensi desa yang cukup unggul. Seperti kerajinan batik Satrio Manah. Industri rumahan ini mampu menggenjot pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.

Ini semua tak lepas dari dukungan pemdes dan pemkab terhadap industri tersebut. Berdampak positif bagi warganya karena bisa membuka lapangan pekerjaan.

Sriana, pemilik bisnis industri kerajinan Batik Satrio Manah mengatakan, pihaknya sudah menggeluti batik sejak 1984. Bahkan di tahun yang sama, pihaknya berhasil memproduksi batik motif pakem. Yakni motif batik yang ada sejak nenek moyang dulu biasanya koleksi keraton. Motif pakem tersebut di antaranya motif satrio manah, parang, gringsing, pari kesit, dan lainnya.

“Sempat mati suri ketika krisis ekonomi tahun 1998. Namun kami bersama perajin batik lain tetap produksi dengan memproduksi batik alus dan terus berkembang hingga sekarang,” katanya.

Nah, agar tidak ada penjiplakan motif, pihaknya mengantisipasi dengan mempatenkan puluhan motif miliknya. Di antaranya motif satrio manah, lavender, dan lainnya. “Kami juga membuat beberapa motif lain yang menunjukkan ciri khas Tulungagung. Misalnya dengan tambahan motif reog kendang atau jaranan, seperti itu,” jelasnya

Sriana melanjutkan, pembatik yang diambil rerata merupakan warga desa setempat. Tak heran memang keberadaan industri batik itu memberikan peluang dalam mendukung pertumbuhan ekonomi desa. Bahkan, kata Sriana, pihak pemdes juga ikut serta membantu dalam pemasaran dengan melibatkannya ketika mengikuti pameran produk unggulan desa. “Secara tidak langsung ikut membantu pemasaran. Bahkan, kami juga dibina langsung oleh dinas terkait seperti dinas koperasi, dinas perdagangan, dan lainnya pada 2005 untuk mengembangkan industri desa ini menjadi lebih dikenal di tingkat nasional,” jelasnya

Saodah, seorang perajin batik mengatakan, keberadaan industri kerajinan batik di desanya memberi wadah untuknya untuk membantu ekonomi keluarga. “Saya sudah membatik sekitar 10 tahun lamanya,” katanya

Dia mengatakan, mengerjakan batik tulis itu tak semudah dibayangkan. Dibutuhkan ketelatenan, kejelian, dan juga kesabaran. Sebab, proses membatik menggunakan malam dalam sehelai kain bisa membutuhkan waktu dua hingga lima hari lamanya. “Ya, tergantung kerumitan motifnya. Makanya tak heran, harganya cukup mahal untuk batik tulis,” tegas warga Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here